Wilayah Adat

Wongko Kigit

 Terverifikasi

Nama Komunitas Kigit
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Elar Selatan
Desa Lempang Paji
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 965 Ha
Satuan Wongko Kigit
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan wilayah adat Golo Munde dengan batas Luwur Lindang, Puran Tipu.
Batas Selatan Berbatasan dengan Wilayah Adat Lewurla dengan batas berupa Terot (lembah), Tengkel Waru, Malar Diru, Waemelon, Malar Laku, Kampung Laman Puran, Wongko Mundo
Batas Timur Berbatasan dengan Kampung Teong dan Kampung Waru Nembu dengan batas berupa, Tengkel Muning (bukit) hingga Sangan Buntang Waewonon
Batas Utara Berbatasan dengan Kampung Tengkel Tingar dan Kampung Pandang Mata dengan batas berupa Mata air Ulu Lalung, Sangan, Pon (muara), Tiwu Biza, Wae Taen Wonu, Hingga Sangan Buntang

Kependudukan

Jumlah KK 68
Jumlah Laki-laki 103
Jumlah Perempuan 114
Mata Pencaharian utama Bertani dan Beternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dor Keros berasal dari Kampung Munde,wae (air) Kor. Karena ada kejadian yang luar biasa di kampung Munde yaitu ada seorang anak bermain sembunyi dengan teman-temannya. Anak kecil ini bersembunyi masuk kedalam sebuah lumbung, tempat menyimpan sejenis makanan lokal yaitu Sorgum (Watar bahasa setempat) dan sifatnnya licin. Ketika anak ini masuk kedalam langsung tenggelam kedasar lumbung sehingga anak yg lain mencari tidak ketemu dan hilang total. Anak ini hilang kurang lebih satu minggu dan orang tua dalam kampungberusaha mencari, namun tidak berhasil. Tiba-tiba pada suatu hari ada seekor anjing sedang menjilat sesuatu dibawah kolong rumah orang tua anak tersebut, lalu seseorang melihat dari dekat ada tetesan cairan dari atas rumah tempat menyimpan lumbung tersebut dan yang aromannya bau busuk, seseorang tersebut langsung menginformasi ke tuan rumah untuk melihat dalam lumbung tersebut dan ternyata cairan yang menetes tersebut adalah cairan anak kecil yang mati dalam lumbung Sorgum tersebut yang sudah busuk.
Kesepakatan para orang tua atau tokoh-tokoh adat untuk berpindah kampung karena kampung Munde adalah kampung sial menurut parah tokoh tersebut dan akhirnnya mereka berpindah ke tempat baru yaitu Ngambok, wae (air) Kor dan membuka kampung baru di tempat tersebut. Di kampung Ngambok tidak bertahan lama karena ada tekanan dari penjajah Belanda, mereka berpindah ke Kigit,Wae Pinggang. Di Kigit tidak bertahan lama juga karena diusir oleh pemerintah RI maka berpindah lagi ketempat baru yaitu Mbong Ndiru lalu Ke Keros yang pada awalnya masyarakat membuka kampung baru yang namanya kampung Keros, Wae Buli Wontong. Namun dalam penyebutan sehari-hari masyarakat adat tetap menyebut Kigit yang walaupun tempat kigit itu sudah ditinggalkan.

Masyarakat Adat Dor Welu berasal dari kampung Vangkung Marun lalu berpindah ke Wikar karena ada permasalahan antara kakak adik yaitu Loko Dan Bello. Mereka dua berperang dan dimenangkan oleh Loko yang kakak, akhirnya mereka bersepakat membagi wilayah yang kakak di Vangkung Marun dan sekitarnya sedangkan Bello sebagai adiknya lari ke Lokabelang (wilayah Ngada). Loko sebagai kakak beserta keluarga besarnya berpindah ke Wikar dan tidak bertahan lama berpindah lagi ke Wa’o lalu terus ke Maro dan berpindah lagi ke Tiruk lalu ke Welu. Di Welu karena Masyarakat tidak berkembang akhirnya bergabung ke Kampung Keros dengan masyarakat adat dari Munde.
Dikampung Keros ini tinggal cukup lama namun masyarakat tidak berkembang karena beberapa alasan seperti kesehatan tidak terjamin banyak yang meninggal dunia, ada yang lari ke kampung lain karena kejamnya pemerintah orde lama dan orde baru. Pemerintah kala itu memaksa masyarakat disepanjang jalur jalan menjadi batas hutan negara dengan membuat PAL dan ada beberapa masyarakat adat yang menjadi korban bahkan sampai dengan penjara dan sebagai pengganti penjara masyarakat harus tebus dengan 36 lembar kain tenun kepada pemerintah dalam hal ini Jaksa Penutut umum (JPU) Kabupaten Manggarai. Kain tersebut dikumpul oleh Masyarakat adat Kigit. Masyarakat Adat yang di penjara itu adalah Benediktus Mbolang, Anselmus Rondong, Simon Bolong, Kasmir Bura, Nikolaus Pau, Gaspar Magang, Gabriel Djalu, Lasarus Lasa, Amatus Santur, Antonius Lawi, Yoseph Siru dan Yoseph Remit. Selain karena kekerasan pemerintah kala itu, daerah sekitar perkampungan Rawa-rawa yang mudah longsor akhirnya pada tahun 1980-an masyarakat bersepakat berpindah mencari tempat yang aman. Proses perpindahan ini di prakarsai atau inisiatornya oleh Bapak Aloysius Biru sebagai Pemerintah RK (Rukun Kampung) dan di dukung oleh beberapa tokoh masyarakat seperti bapak David Mberong, Anggelinus Djalu, Markus Rasi, Rafael Ajang, Petrus Bo, dll. Masyarakat adat melakukan survey tempat untuk dijadikan kampung seperti di Tiruk dan Kenga. Dari hasil survey, tokoh-tokoh tersebut di atas bersepakat memilih tempat Kenga. Setelah itu mereka bersepakat tempat tersebut dibagi kepad masyarakat dengan 15 meter untuk lebarnya sedangkan panjangnya terserah sesuai dengan kondisi tempat. Dena tempat tersebut di gambar oleh salah seorang pemuda yang barusan tamat dari SMA Yaitu Gregorius Parus Anak sulung dari bapak Aloysius Biru. Sebelum resmi menjadi kampung adat (Wati Kempo), tempat yang sudah dibagikan kemasyarakat dijadikan kebun. Nama Kampung baru ini sempat diberi nama oleh salah seorang tokoh pemerintah desa Lempang Paji bapak Antonius Masa (Almarhum) yaitu nama Ujung Pandang , namun leluhur berkehendak lain melalui masyarakat setempat dan tidak setuju nama tersebut karena nama tersebut adalah adopsi nama tempat orang lain sehingga masyarakat adat setempat tetap bersepakat nama KIGIT sampai sekarang, karena Filosofi Kigit menurut para leluhur adalah “Menyenangkan/menyejukan”.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

a. Pong = Hutan
- Pong Meze: hutan yang dilindungi (tidak boleh mengambil kayu), karena merupakan tempat keramat yang digunakan untuk melaksanakan ritual adat. Di dalam Pong Meze terdapat sumber mata air yang juga dilindungi
- Pong/Making Buin: wilayah hutan yang bisa diambil kayunya untuk kebutuhan masyarakat tetapi tidak boleh diperjualbelikan.
b. Zat (Padang): Tempat untuk beternak, berburu, dan dicadangkan untuk perluasan kebun dan pemukiman
c. Uma = Kebun
- Kebun tetap/ Ligo: untuk jenis tanaman yang berumur Panjang, seperti tanaman buah dan kayu-kayuan.
- Kebun berpindah: Uma. Lahan sebagai tempat bercocok tanam yang biasanya sudah ditinggal selama kurang lebih 2-5 tahun.
d. Wongko: Pemukiman yang digunakan sebagai tempat tinggal dan menjalankan ritual adat
e. Galung (Sawah): tempat untuk bercocok tanam khususnya padi
f. Alo: Sungai yang digunakan sebagai sumber air masyarakat.
 
Penguasaan dengan konsep penguasaan dan pembagian tanah di wilayah Manggarai pada umumnya berupa “Gendang One Lingko Peang” yang artinya “Kampung di dalam dan Ladang di luar” diatur oleh Dor atau Tua Teno. Untuk memperoleh Lingko ini warga dapat memintanya kepada Tua Golo dan Tua Teno. Sistem pengelolaan wilayah ada yang dikelola secara komunal dan Individu. Yang dikelola secara komunal seperti: Pong, Zat, dan Alo. Sedangkan Uma, wongko dan galung dikelola secara individu. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Kigit
Struktur Neki Weki Sama Tara 1. Gaen Wongko/ Tua golo. 2. DOR/Tua Teno 3. Gaelo Nembaru/ Biza
- Gaen Wongko/Tua Golo sebagai orang tua dalam kampung yang tugasnya menyelesaikan semua urusan adat.
- DOR/Tua Teno harus satu keturunan, anak pertama bias laki-laki atau perempuan. Jika sudah selesai adat (pokok belis) bisa naik menjadi gaen wongko (bakok porak rotas teto). Tugas mengatur urusan tanah, menyusun adat dan menyelesaikan masalah.
- Gaelo nembaru/Biza mengatur masing-masing suku. Ada 9 suku diantaranya: Bolong Sokon, Los Lando, Lando Angin, Reba Poka, Sole Poso, Reba Tirun, Sangkal Kia, Reba Nunang.
 
Neki weki sama tara (Musyawarah adat)
dihadiri oleh unsur-unsur adat. Adapun tujuan dari Musyawarah adat antara lain: 1. Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, 2. Membicarakan pelaksanaan suatu hajatan, 3. Mengadakan suatu peradilan adat, 4. Mendiskusikan kepentingan masyarakat adat, 5. Membahas pernikahan (di tingkat Kilo). Setiap akan melaksanakan msyawarah adat diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak dan rokok.
 

Hukum Adat

Aturan yang ada dalam pong mese: Dilarang tebang pohon dan masuk kesana (banyak orang yang kesasar), Tidak boleh berkata kasar, Tidak boleh berjalan sendiri.
Sanksi: langsung tersasar, 2-3 malam dihutan (Titi Roko dan Weleng)
Dilarang membakar bila melanggar akan dikenakan sanksi dilaporkan kepada dor dan akan diadili secara adat atau nampo adat.
Meminta lahan baru dengan bicara pada dor, memberikan seserahan “manukapu tuak botol rongko bungkus.
Menyerobot lahan denda berupa gauk(beras/sarung hitam)
Bakar lahan: rapat do dor :parang paham2. Bakar “mezang api: sudah padam api ritualnya kumpul untuk buat nasi bamboo. Makan dengan duduk supaya hama tidak menyerang.
Irong: jeda 1 hari tidak boleh ada aktivitas. Setelah itu laki2 berburu di hutan dan perempuan mencari udang
Tanam padi (Bongkos wua2). Ini dilakukan setahun 1x
Dilarang menebang pohon di areal sungai/mata air
Dilarang merusak bendungan
Tidak boleh mengikat hewan di sekitar sungai
Apabila melanggar dikenakan sanksi berupa “Dea Manuk” (Beras dan ayam)
Aturan adat tentang galung (los londok senur wakea)
Tidak boleh mengerjakan sawah orang kecuali ada ijin dari yang bersangkutan. dan akan dilaporkan ke tua teno
Pada saat musim tanam hewan tidak boleh berkeliaran saanksinya bayar denda sesuai dengan kerusakan (Waeng waken los londok)
Pembagian air harus adil dan tidak boleh ada monopoli air. Air sudah diatur dalam sumpalan /bambu
Apabila melanggar akan dikenakan denda “dea manuk” berupa beras, ayam,

 
Aturan tentang pencurian disebut Zezang: ada 2 kategori: kecil (curi ayam, curi tanaman dan curi benda). Besar (curi kerbau, kuda, sapi, babi dan uang).sanksi dilihat dari pihak anak rana (keturunan laki-laki) dan anak wina (keturunan perempuan). Bila anak rana dedenda kerbau dengan harga kurang lebih 5 juta. Bila anak wina didenda babi, beras kain tenun.
Untuk kasus pembunuhan tidak diatur dalam adat tetapi langsug diproses oleh pihak yang berwajib.
Aturan adat tentang pernikahan disebut dengan :”Nggring wae mengos wongko”
Tidak boleh menikah dalam 1 keturunan /sedarah.
Pernikahan boleh dilakukan apabila beda keturunan dan ada perantara yang akan menyampaikan proses selanjutnya.
Tidak boleh menikah dibawah umur dengan kisaran usia: laki-laki 24 tahun dan perempuan 20 tahun.
Tidak boleh menikah laki apabila masih terikat perkawinan dengan orang lain.
Tidak boleh ada perceraian.
Boleh menikah dengan orang luar/beda daerah dan juga yang berbeda agama.
Sanksi: “Wau Suru Sunsang Tuke Suru Lobo”
Untuk perempuan: kain, babi, beras.
Untuk laki-laki: kuda/kerbau. Apabila diuangkan disesuaikan dengan harga setempat.
Tahapan dalam proses perkawinan:
Laki-laki datang ke keluarga perempuan Bersama dengan keluarganya..
Melihat silsilah dari keturunan kedua belah pihak(susu nenek/turuk mbok)
Penentuan belis (Laki-laki: kuda, kerbau, kambing, uang, ayam, sirih pinang, tuak)
Menghadap pihak gereja untuk pemberitahuan nikah.
Baca nama di gereja selama 3 minggu. Apabila tidak ada halangan dilakukan penentuan tanggal.
Menikah di gereja setelah itu dilanjutkan dengan nikah adat (Wisi nepe poleng lune artinya bentang tikar dengan bantal), prosesnya: dilakukan di rumah perempuan.
Pihak perempuan meminta belis (widang).
Penyerahan anak perempuan ke keluarga laki-laki.
Laki sambi: bila belis belum lunas.
Bakok parak uma nozong: penyerahan belis terakhir (lunas)
Potas teto: menjadi orng tua dalam kampung yang menari dan potong kerbau sambal menari di nambe
Aturan tentang kelahiran wajib merayakan waung.
Bila dalam keluarga yang baru melahirkan anak pertama Tidak boleh ada kegiatan selama 1 untuk seluruh kampung. Ritual ini tergantung dari masing-masing suku/ikut secara mawa. Ada yang melakukan 2/3 hari.
Menyambut keharihan baru (mekah)
Pengesahan nama dengan cara membuang belahan pinang dengan kondisi 1 terbuka dan 1 tertutup (Nampo)
Makan adat (perayaan)
Tidak ada sanksi yang tetapi dipercaya apabila melanggar akan berdampak buruk dan mengena secara langsung pada pihak yang bersangkutan.
Aturan adat tentang kematian (Rendut mata kemu mozon)
Pembersihan jenazah (Balai dio)
Tombo ngai mbaru kapa: pemberitahuan kepada pihak keluarga
Rakot kumpul kali dolong: pihak keluarga membawa barang bawaan seperti: babi. Kain, beras apabila dari pihak perempuan dan kambing, ayam kuda apabila dari pihak laki-laki.
Lorang: menyampaikan keluarga sudah hadir dengan menutup kain pada jenazah
Na lone mai peti: penyimpanan mayat ke dalam peti jenazah
Petu: penyampaian maaf dari keluarga duka
Paku: tutup peti jenazah
Tamang tana jumping watu: penguburan.
Apabila dalam kematian salah satu pihak tidak menyampaikan kepada keluarga yang bersangkutan, maka pihak kelurag dapat menuntut secara hokum dan adat menjatuhkan denda berupa kuda, kerbau dan uang.
 
Setiap pelanggaran dikenakan denda sesuai dengan tingkat pelanggarannya, yaitu pelanggaran kecil dikenakan denda berupa ayam, babi, beras, kain, tuak rokok. Pelanggaran menengah dikenakan denda berupa kuda. Sedangkan pelangaran besar dikenakan denda berupa kerbau.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, , ubi tatas, singkong, keladi Protein Nabati: buncis, brendi bon, kacang bali, kacang tanah, kedelai. Protein Hewani: ayam, bebek, kambing, sapi, babi, ikan karpel, nila, belut, kepiting, katak. Sayur-sayuran: labu, daun singkong, daun papaya, daun pea, Markis, paku, bayam, kol, pucai, kangkong. Buah-buahan: alpukat, pisang, jeruk, jambu, kelengkeng, Nangka, markisa
Sumber Kesehatan & Kecantikan Halia: batuk, sakit perut Cengkeh, kumis kucing, kunyit, temulawak, kajoli, kayu sita, daun jambu, bawang putih, binahong, daun afrika, daun sirsak
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang:Manii, Nangka, ampufu, wuar, worong, pinis Papan: pinis, lumu, wuhar, worong, sengon, redong, kayu jati Atap: Alang-alang:, ijuk, anyaman bambu
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Lengkuas, kunyit, merica, halia, serei, salam, pala, ketumbar, jinten
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kopi, kemiri, Vanili, Cengkeh

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.1 Tahun 2018 tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat No.1 Tahun 2018 tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen