Wilayah Adat

Laman Boyutn

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Laman Tawa di Laman Boyutn
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Sokan
Desa Nanga Libas
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.927 Ha
Satuan Laman Boyutn
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Wilayah adat Laman Karangan Panjang Desa Nanga Ora. Mulai dari Sungai Palipi Hulu sampai Sungai Bagantar. Dan Wilayah Adat Laman Tanjung Mahu Desa Tanjung Mahu. Mulai dari Sungai Bagantar, Sungai Silik Barasap sampai Sungai Sopatan Kalasi.
Batas Selatan Wilayah Adat Laman Nanga Ora Desa Nanga Ora. Mulai dari Sungai Jalinuh Sangkuang Batali sampai Sungai Palipi Hulu.
Batas Timur Wilayah Adat Laman Libas Desa Nanga Libas Mulai dari Bukit Hulu Sabaguru sampai Sungai Jalinuh Sangkuang Batali.
Batas Utara Wilayah Adat Laman Pugar Indah Desa Nanga Libas. Mulai dari Sungai Sopatan Kalasi sampai Sungai Penyebrang Suritn. Dan Wilayah adat Laman Libas Desa Nanga Libas. Mulai dari Sungai Penyebrang Surit sampai Bukit Hulu Sabaguru.

Kependudukan

Jumlah KK 97
Jumlah Laki-laki 208
Jumlah Perempuan 189
Mata Pencaharian utama Petani dan penoreh karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

SMasyarakat Adat yang mendiami Laman Boyutn sekarang menyebut dirinya Masyarakat Adat Laman Tawa. Mayoritas mereka mendiami perhuluan Sungai Pinoh yang merupakan anak Sungai Melawi. Secara Pemerintahan Adat, mereka menyebar di 2 (dua) Ketemenggungan, yaitu: Ketemenggungan Nanga Libas dan Ketemenggungan Nanga Ora. Laman Boyoutn sendiri berada di bawah Pemerintahan Ketemenggungan Nanga Libas. Sedangkan secara administrasi Pemerintahan, Masyarakat Adat Laman Tawa tersebar di 3 (tiga) Desa di Kecamatan Sokan, yakni: Desa Nanga Libas, Desa Nanga Ora, dan Desa Penyengkuang.
Selain di Laman Boyutn, Suku Laman Tawa juga tersebar di Laman Talue dan Laman karangan Panjang. Menurut cerita orang-orang tua Laman Tawa di Laman Telue, Boyutn, dan Karangan Panjang bahwa proses migrasi mereka telah berlangsung pada zaman Kayau (Ngayau). Proses migrasi terjadi karena menghindari serangan dari suku-suku lain pada waktu mengayau. Selain itu, perpindahan juga mereka lakukan untuk menghindari pemungutan hasil bumi oleh Raja. Raja memaksa agar warga masyarakat menyerahkan hasil buminya. Adapun Kerajaan yang berkuasa pada waktu itu antara lain: Kerajaan Sukadana, Kerajaan Sambas, Kerajaan Pontianak, dan Kerajaan Sintang.
Awal mulanya, Masyarakat Adat Laman Tawa berasal dari laut Laba-Labe (Labe Lawe, daerah pantai Kapuas - Sukana, Kabupaten Kayong Utara sekarang). Kemudian pindah ke Pontianak (sekitar Sukalanting, Kabupaten Kubu Raya sekarang) dan mendirikan dukuh-dukuh. Dukuh merupakan pondok tempat tinggal sementara dan dukuh juga merupakan cikal bakal laman/kampukng. Dari Pontianak, mereka pindah mudik menyusuri sungai Kapuas, sampai di Sintang. Dari Sintang kemudian mereka mudik menyusuri sungai Melawi dan membuat dukuh di Nanga Pinoh (ibu kota Melawi sekarang), tepatnya di Laman Rame. Kemudian mereka pindah mudik menyusuri sungai Pinoh dan mendirikan dukuh di Sungai Pak, tepatnya di pantai sungai Pinoh (Hilir Kecamatan Sayan sekarang). Di Laman Pak masih terdapat buah-buahan (temawang) yang mereka tanam. Dari Sungai Pak, mereka pindah lagi ke Nanga Sungai Songang, dan berpindah lagi di Nanga Sayan (Kecamatan Sayan sekarang) tepatnya di Kerangkang Mawakng. Bekas tanaman berupa durian, tengkawang, kayu ulin dan tanaman buah-buahan lainnya masih ada di tempat tersebut. Kemudian mereka pindah dan mendirikan dukuh di wilayah Madong Raya tepatnya di Sungai Bata (Kecamatan Sokan sekarang). Mereka mendiami Modang Raya sekitar tahun 1700-an, pada zaman kerajaan.
Di Laman Madong Raya mereka terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok Pertama: Mereka masuk Sungai Pinoh dan membuat dukuh di wilayah Sungai Panak dalam Sungai Nobatn dan di Sungai Riam Tarik, mereka pindah lagi dan membuat dukuh di wilayah Sungai Mentawa (disebut Laman/Kampukng Nusa Mentawa) tepatnya di Nanga Libas (Desa Nanga Libas sekarang). Di Laman Tawa inilah awalnya masyarakat diberi nama Suku Dayak Laman Tawa. Sedangkan Kelompok Kedua: Mereka masuk Sungai Ngolas membuat dukuh di Laman Lompak’n di hulu Sungai Kanibang anak Sungai Ngolas. Pecahnya Laman Lompak’n terjadi karena kematian Dara Tunggal yang disebabkan mencuci beras di dalam rumah dekat dapur tungkuan.
Masih di zaman pemerintahan kerajaan, Masyarakat Laman Tawa yang bermukim di Laman Nusa Mentawa yang mayoritasnya Suku Dayak dipaksa raja untuk memeluk Agama Islam. Jika menolak maka akan diberikan sanksi oleh Raja. Zaman ini mereka kenal dengan sebutan Zaman Islam Serikat. Karena tidak bersedia mengikuti keinginan raja, mereka pindah ke Laman Sungai Panak. Dari Laman Sungai Panak sekitar tahun 1925, mereka pun memutuskan untuk pindah tempat tinggal lalu bergerak kearah mudik dari Sungai Libas hingga sampai ke hulunya yaitu di Laman Baharu. Pada tahun 1925, Orang yang pertama kali membuka lahan pertanian di Laman Baharu bernama Pak Sopo. Pada waktu itu Pak Sopo juga sebagai pemimpin Laman yang sering disebut kepala Kampukng. Di situlah Masyarakat Adat Laman Tawa mulai membuka lahan untuk kegiatan bercocok tanam. Mereka menanam karet, tengkawang, durian dan berbagai jenis tanaman lainnya dan menetap membentuk dukuh-dukuh, di antaranya Dukuh Laman Sungai Panak, Dukuh Selumakng, dan Dukuh Durian Pako.
Atas keinginan dari masyarakat sendiri maka dukuh-dukuh yang ada bergabung menjadi sebuah pemukiman besar yang disebut Laman. Pada tahun 1938 Masyarakat Adat Laman Tawa sudah mengenal sistem pemerintahan Kampukng, sehingga berdirilah Kampukng/Laman Baharu (Desa Nanga Libas sekarang). Laman Baharu ini tidak hanya terdiri dari tiga dukuh saja tetapi gabungan dari beberapa dukuh lainnya seperti: Dukuh Batapis, Dukuh Omang, Dukuh Kupo Bolin, Sungai Panak, Duku Baloyakng, Dukuh Durian Pako, dan Dukuh Tanjung Limo.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945-1946, sistem pemerintahan mulai tertata. Laman Baharu dipimpin oleh Kepala Kampukng dan Kabayatn (Wakil Kepala Kampukng). Tahun 1945-1970: Kepala Kampung dijabat oleh Bapak Kedok dan Kebayatnnya adalah Bapak Ubun. Dari tahun 1970-1990 Kepala Kampukng Laman Baru dijabat oleh Bapak Acon dan Kebayatn Bapak Teman. Pada tahun 1982, agama Katholik masuk ke Kampukng Boyutn yang dipelopori oleh Pastor J. Gross, CM. Pada tahun 1990-1996 Kepala Kampukng dijabat oleh Bapak Sopor dan Kebayatnnya adalah Bapak Hentong.
Pada kepemimpinan Bapak Sopor sebagai Kepala Kampukng berinisiatif untuk pertama kali membuka Laman Boyutn dengan membeli tanah milik Haji Abang Tayo (yang merupakan orang dari Sokan Kampukng Libas) dengan seekor sapi betina yang diuangkan pada saat itu sebesar Rp. 5.600.000,00 (Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah). Pembelian tanah ini dilakukan pada tahun 1994. Pak Sopor menginginkan dan bercita-cita Laman Boyunt menjadi sebuah laman/kampukng yang besar dan berkembang. Selain itu, Bapak Sopor ingin membuat Laman Boyutn karena di Laman Baharu kurang memadai akses transportasi, komunikasi dan informasi serta jauh dari sarana prasarana. Bapak Sopor dan beberapa tokoh masyarakat pada saat itu berpikiran untuk membentuk laman baru yang lokasinya berada di wilayah Buluh Berani. Mempertimbangkan lagi dari segi akses, kemudian berpindah ke wilayah Sengkuang Betali dan akhirnya memutuskan untuk menetap di pinggiran Sungai Pinoh yang banyak ditumbuhi Pohon Boyutn, sehingga tempat tersebut dinamakan Laman Boyutn.
Pada tahun 1996 terjadi perubahan status Pemerintahan Kampukng yang secara otomatis mengubah status kepemimpinan. Pemerintah Kampukng berubah menjadi Pemerintahan Desa dan Kepala Kampukng menjadi Kepala Desa, Kabayatn menjadi Kepala Dusun. Sehingga Laman Baharu karena penduduknya sedikit maka secara administrasi berada dalam Dusun Lestari Setia, Desa Nanga Libas. Desa Nanga Libas terdiri dari 4 (empat) Dusun, yaitu: 1) Dusun Nanga Libas (yang terdiri dari Kampukng Nanga Libas), 2) Dusun Lestari Setia (terdiri dari Kampukng/Laman Baharu dan Kampukng/Laman Nanga Teluai), 3) Dusun Pugar Indah (Terdiri dari Kampukng/Laman Ketati dan Kampukng/Laman Nanga Haji), dan 4) Dusun Nanga Tangkit (Terdiri dari Kampukng/LamanNanga Tangkit).
Pada tahun 1998 orang yang pertama kali mengikuti jejak Pak Sopor dan Pak Acon pindah ke Laman Boyutn adalah Pak Jingkar dan Pak Hentong. Tahun 1999 disusul lagi oleh Pak Sudin Jadi, Pak Sono, Pak Akor, Pak Sudan, Pak Tahu, dan Pak Dosan. Perlahan-lahan penduduk di Laman Boyutn semakin bertambah. Pada tahun 2000, Laman Boyutn masuk dalam administrasi Dusun Lestari Setia. Dusun Lestari Setia merupakan gabungan dari Laman Boyutn (termasuk Laman Baharu) dan Kampukng Teluai. Yang menjabat sebagai Kepala Dusun Pertama pertama kali adalah Bapak Hentong. Jumlah penduduk kurang lebih 34 Kepala Keluarga dengan 169 Jiwa. Pada tahun 2004 adanya pergantian Kepala Dusun. Bapak Hentong diganti oleh Pak Donson dengan periode jabatan (2004-2006). Pada tahun 2005, terjadilah pemekaran dusun yaitu Dusun Lestari Setia dan Dusun Telue (Taluai). Pada tahun 2006 adanya pergantian Kepala Dusun lagi, Pak Donson digantikan oleh Pak A. Sono periode jabatan tahun 2006 – sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

pembagian ruang menurut Masyarakat Adat Kampukng Boyutn adalah sebagai berikut:
a. Kampukng Buah ( Tembawang )
Berdasarkan pembentukannya Kampukng buah terbentuk dari bekas Kampukng, dukuh atau ladang yang ditinggalkan.
Dengan ditingalkannya lokasi-lokasi yang banyak tanaman buahnya inilah menjadi Kampukng buah. Jika terbentuk dari
bekas Kampukng maka kepemilikan Kampukng buah menjadi hak seKampukng, tetapi jika terbentuk dari dukuh dan ladang
maka haknya menjadi individu yang memiliki dukuh dan ladang.
b. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas
keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman
masyarakat.
c. Kobutn Karet (Karit)
yakni kawasan yang berisikan mayoritas tanaman karet, walaupun ada juga tanaman-tanaman lain seperti jengkol, durian,
dan lainnya yang juga ditanam disana.
d. Rima
merupakan hutan yang masih utuh, banyak dijumpai pohon-pohon besar, binatang buruan, mata air, berbagai jenis burung,
dll. Dalam Rima juga terdapat Tempat Keramat yang bernama Lubang Macan. Lokasi tersebut bernilai sakral, Keramat
memiliki hubungan psikologis antara masyarakat Kampukng, baik dengan roh nenek moyang, penunggu alam dan Duata.
Maka tempat-tempat tersebut tidak boleh untuk dibuka.
e. Rasau/rawa
yaitu dataran rendah yang berair, biasanya digunakan sebagai kawasan umo rawa. Umo rawa ini yang digunakan
masyarakat untuk menanam padi dan tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam lainnya
f. Babas/bawas,
Merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk
be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti
tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas
berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan
atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo. Dalam Babas
terdapat dukuh, yaitu lokasi yang perladangan/huma yang sudah mencapai puluhan tahun, jumlah yang menepati dukuh
kurang lebih 1-6 kelurga, biasanya berasal dari lawang ( gabungan dari keluarga). 
Sistem Kepemilikan Tanah Masyarakat Adat Kampukng Boyutn
Secara adat, kepemilikan atas tanah atau lahan dapat dibagi
1. Tanah Individu
Sistem ini didasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan(rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga
dari warisan orang tua. (Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)
2. Tanah keluarga/marga
Tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk
generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan
untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut.( Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)
3.Tanah Komunal
Kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik bersama satu kampung atau milik kolektif/komunal (Rimo,
Rampa Lalang. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Laman Tawa Boyutn
Struktur Struktur Lembaga Adat Suku Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn: 1. Proses pemilihan Manter dan Tuha dalam Laman melalui Bahump Bopkat dan ditunjuk langsung oleh Masyarakat yang hadir pada saat itu atau dengan Pencalonan (Sistem Demokrasi). 2. Syarat seorang Kepala Adat dan Tuha dalam Laman memiliki Kemapuan dalam bidang adat, cakep berani mengambil Keputusan. Masa jabatan Manter dan Tuha Dalam Laman Tidak Ditentukan, sesuai dengan kemampuan memimpinnya.
1. Manter Adat / Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat tingkat
kampung.
2. Tuha Dalam merupkan Wakil Ketua Adat/Kebayan hanya diberi kewenangan mengurus adat istiadat dan hukum adat di
wilayah kampung apabila Ketua Adat tidak berada ditempat atau sedang berhalangan. Tuha Dalam juga bertugas untuk
menghadirkan atau memanggil masyarakat ketika ada bapokat atau musyawarah adat. 
Melalui rapat/musyawarah adat (Bapokat)
Musyawarah ini dengan melibatkan seluruh warga kampung yang dipimpin langsung oleh pengurus adat. Pelaksanaan
biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah ketua adat. 

Hukum Adat

Aturan tentang Rimo
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan
membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan
dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh
ditangkap dan dipotong Bersama-sama 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan,
balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji,
perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat,
kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.
Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan
dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang 
Pada tahun 2016 terjadi kasus seseorang membakar kebun yang apinya merambat ke kebun orang lain. Akibat kejadian
tersebut yang bersangkutan disidang secara adat, dengan melakukan proses mediasi terlebih dahulu kepada kedua belah
pihak. Sanksi yang dikenakan tidak berupa pembayaran dengan uang, namun menyerahkan hasil panen (Getah Karet)
sesuai dengan kerugian yang dialami. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat Ubi kayu, ketela, keladi. Sayuran: Entimun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, dan kucai, dan buah-buahan lokal Buah-buahan . Buah sibo, kembayo,Lemacang, kusik, durian, langsat, sedawak,Pekawai. Protei Nabati Kacang Tanah,kacang hijau, kedelai, kacang merah Protein Hewani Ikan, babi, rusa,kijang, landuk, batat(musang),
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar gelaet : untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit Kumis kucing : untuk menyembuhkan penyakit gula , Pasak bumi penyembuhkan rasa pegal dan nyeri, Akar kebintang menyembuhkan sakit perut, kayu cina buri untuk luka dan coki untuk menyembuhkan penyakit dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Jenis kayu 1. Tiang kayu: kayu ulitn , Jenang, kasau kayu gonis tokapm banuah, , keladatn 2. Dinding: kayu meranti, omang besi, pakit 3. Atap rumah: Daun sarakng, penyelapat,maso,paraya
Sumber Sandang Untuk keperluan Adat istiadat masih memanfaatkan pakaian dari kulit kayu seperti: Kulit kayu kapuak : untuk membuat pakaian (adat) Getah pohon : Untuk pewarna pakaian, Bulu ekor burung ruai : untuk asosoris adat,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, cabe rawit,sengkubak.sibuk, lonsu, asam kandis, tekoru.
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Jengkol, Tengkawang

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Melawi No 660-174 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Boyunt 660/174 Tahun 2019 SK Bupati Melawi No 660-174 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Boyunt SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen